Header Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis

Deteksi Kanker Rahim dan Payudara, 15 Petugas Medis Ikuti Pelatihan

Selasa, 27 Maret 2018

BENGKALIS- 15 petugas medis dan paramedis utusan dari 15 Puskesmas di Kabupaten Bengkalis mengikuti Pelatihan Peningkatan Kapasitas Petugas Medis dan Paramedis untuk Deteksi Dini Kanker Leher Rahim (Serviks) dan Payudara, ditaja Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bengkalis, Senin (26/3/18).

Kegiatan berkelanjutan ini, dijadwalkan dilaksanakan selama empat hari, mulai 26-29 Maret 2018 di aula rapat Kantor Dinkes, Jalan Pertanian. Menghadirkan narasumber dari Dinkes Provinsi Riau, RSUD, serta pemateri yang sudah terlatih sebelumnya.

Resmi dibuka Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes Kabupaten Bengkalis Supardi, S.Sos, MH, tampak hadir Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Alwizar, serta sejumlah Kabid di lingkungan Dinkes.

Kepala Dinkes Kabupaten Bengkalis, Supardi, S.Sos, MH, dalam pengarahannya mengatakan, peserta yang mengikuti kegiatan ini agar benar-benar memanfaatkan kesempatan yang ada. Selama berlangsung hendaknya santai, serius, sukses (3S).

Program berkesinambungan tersebut, bukan hanya program Pemkab Bengkalis saja, tetapi juga merupakan program dari Kemenkes dan Provinsi Riau. Permasalahan kanker leher rahim dan payudara merupakan permasalahan yang cukup besar. Oleh karena itu harus didukung banyak pihak.

"Setiap tahun targetnya cukup tinggi, tetapi yang mau mendaftarkan diri sedikit sekali walaupun gratis. Program ini sudah disampaikaan ke Puskesmas, dan sudah disiapkan waktu tetapi masih tetap minim dan ini merupakan tanggung jawab bersama," ungkapnya.

Dilanjutkan Sekretaris Dinkes ini, banyak hal yang perlu dikoreksi karena walaupun sudah diprogramkan tetapi dalam pelaksanaan cukup sulit, sehingga perlu kapasitas tenaga medis yang berkualitas dan berkuantitas agar memaksimalkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

"Dalam pelatihan ini target kita meningkatkan kualitas, melayani masyarakat dengan baik, apalagi jangkauanmya cukup luas dan sulit ditempuh petugas medis," katanya lagi.

Supardi juga mengakui, pemeriksaan untuk mencapai target tinggi yang menjadi sasaran sulit untuk dicapai, menyusul pemeriksaan sejak dini dua kanker itu masih dianggap tabu oleh sebagian besar besar kalangan ibu-ibu.

"Petugas medis di lapangan harus memberikan pemahaman kepada masyarakat dengan baik. Saya berharap, dengan pelatihan ini petugas meningkatkan kualitas harus kerja sana dengan semua pihak dan target pemeriksaan bisa tercapai," harapnya.

Sebelumnya, Ketua Pelaksana Hj. Nurbaity Johan, SKM menyebutkan, bahwa target se-Provinsi Riau jumlah ibu-ibu usia 30-50 tahun menjadi sasaran pemeriksaan sejak dini kanker leher rahim dan payudara pada tahun 2018 berjumlah 32.822 jiwa. Sedangkan target untuk se-Kabupaten Bengkalis yang menjadi sasaran 8.206 jiwa setahun, sementara itu untuk perbulan sebanyak 684 jiwa.

"Saat ini menjadi fenomena kanker rahim dan payudara yang cukup tinggi. Perkembangan kanker rahim diderita oleh 17 per-100 ribu jiwa, sedangkan kanker payudara 40 per-100 ribu jiwa perempuan. Dengan pelatihan kapasitas ini, meningkatkan kualitas petugas medis maupun paramedis," papar Hj. Nurbaity juga menjabat sebagai Kasi Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Kesehatan Jiwa (Keswa) ini, seraya menambahkan jumlah ibu-ibu yang diperiksa tahun 2017 lalu berjumlah 4.578 jiwa.***