Header Dinas Kesehatan Kabupaten Bengkalis

Dinkes Laporkan 221 Warga Rupat Diserang Penyakit Akibat Asap

Senin, 11 Maret 2019

BENGKALIS- Dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) hingga Kamis (7/3/19) di Kecamatan Rupat sudah memasuki hari yang ke-40 sejak 25 Februari 2019 lalu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bengkalis melaporkan, bahwa sampai dengan 6 Maret 2019 telah terjadi 221 kasus penyakit akibat asap selama Karhutla.

Penyakit-penyakit tersebut secara rinci adalah terdiri dari Penyakit ISPA/Influeza Like Ilness (ILI) sebanyak 184 kasus, Penyakit Asma sebanyak 5 kasus, Penyakit Konjungtivitis sebanyak 6 kasus, dan Penyakit Dermatitis sebanyak 12 kasus. Dari 184 kasus ISPA/ILI ini 42,49 % terjadi pada kelompok umur 20-44 tahun, 27,80 % terjadi pada anak-anak kelompok umur 5-9 tahun, 24,70 % terjadi pada Balita dengan kelompok umur 1-4 tahun, dan 7,90 % terjadi pada bayi umur di bawah 1 tahun.

Data ini adalah hasil updating laporan setiap harinya oleh UPT. Puskesmas Batu Panjang dan UPT. Puskesmas Teluk Lecah Kecamatan Rupat disampaikan ke Dinkes Kabupaten Bengkalis.

"Dan kita teruskan ke Dinas Kesehatan Provinsi Riau, kepada warga masyarakat yang menderita penyakit-penyakit tersebut telah dilakukan care seeking sesuai SOP yang berlaku oleh Puskesmas kita," ungkap Kepala Dinkes Kabupaten Bengkalis, dr. Ersan Saputra TH melalui Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Alwizar, SKM.

Ditambahkan Alwizar, dari hasil investigasi Dinkes Bengkalis di lapangan beberapa waktu yang lalu, wilayah yang terdampak asap Karhutla memang di wilayah kerja kedua Puskemas tersebut. sedangkan wilayah kerja UPT. Puskesmas Tanjung Medang, Kecamatan Rupat Utara tidak terdampak dengan asap Kebakaran yang terjadi.

Dalam hal ini sambung Alwizar, Dinkes Bengkalis melalui Bidang P2P telah mengaktifkan Sistem Kewaspadaan Dini (SKD) dan Surveilans Aktif untuk menanggulangani dampak asap bagi kesehatan masyarakat.

"Langkah ini sebagai antisipasi dan juga penyembuhan secepatnya kepada penderita sesegera mungkin. Letak geografis Pulau Rupat yang berada di Pesisir Timur Pulau Sumatera dan berada di Selat Malaka sangat dipengaruhi oleh musim, dan saat ini musim angin Utara," katanya seraya menyebutkan angin berhembus dari arah Selat Malaka menuju Pulau Sumatera.

Oleh sebab itu menurutnya, maka asap dan jerebu akibat Karhutla di Pulau Rupat menuju di wilayah daratan Sumatera dibawa oleh angin. Bisa jadi faktor ini yang menyebabkan angka penderita ISPA dan penyakit-penyakit lainnya akibat asap Karhutla seperti di Dumai menjadi lebih tinggi dari pada di Kecamatan Rupat.***